Copyright @ Tuban Petrochemical Industries

Jakarta (ANTARA News) - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menegaskan pengoperasian kembali kilang PT Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, akan dilaksanakan pada Kamis (1/10).

"Iya, satu Oktober nanti (kilang TPPI) mulai dioperasikan, jadi aset yang sudah lama tidak dimanfaatkan ini bisa digunakan kembali," katanya di Jakarta, Senin.

Tempat pengolahan minyak ini dibuka kembali setelah statusnya sempat dinonaktifkan akibat kasus korupsi dan pencucian uang dalam penjualan kondensat yang melibatkan TPPI dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada 2009.

Kilang yang sempat dioperasikan pada 1 November 2013 sebagai kerja sama pengolahan (Tolling Agreement) antara TPPI dengan Pertamina itu, kemudian disarankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk ditutup, sehingga aset tersebut kembali tidak produktif.

Oleh karena itu, walaupun ditargetkan sudah dapat berproduksi pada awal Oktober 2015, menurut Dwi, pihaknya masih perlu menyelesaikan permasalahan administrasi kilang tersebut.

"Terkait finalisasi urusan administrasinya nanti kita harapkan bisa segera selesai di pertengahan Oktober," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) tersebut mengungkapkan, diaktifkannya kembali kilang TPPI akan menghemat uang negara sebanyak 10 juta dolar AS per harinya.

Sebelumnya, kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 1,5 juta barel per hari, sementara produksi kilang hanya 800 ribu barel per hari, dan jumlah total impor negara mencapai 700 ribu barel BBM per hari. 

Dengan adanya kilang TPPI ini, Dwi mengatakan peningkatan produksi BBM nasional dapat mencapai 100.000 barel per hari, sehingga kondisi tersebut memungkinkan "perusahaan pelat merah" itu mengurangi permintaan BBM dari luar negeri sebanyak 15 persen.

Selain itu, keuntungan lain yang diraih dari pengoperasian kilang ini adalah Indonesia dapat menghemat 10 juta dolar AS per harinya karena peningkatan produksi BBM tersebut, dan pengurangan penggunaan dolar itu kemudian diharapkan dapat berkontribusi memberikan perbaikan nilai pada rupiah. 


 

Sumber : Agita Tarigan, Antaranews.com
Selasa, 29/09/2015 00:57 WIB
 
 

 

"