Copyright @ Tuban Petrochemical Industries

Surabaya: PT Pertamina (Persero) mencatat dengan mulainya produksi premium di kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban, Jawa Timur dan RFCC Cilacap nanti akan ada penghematan impor premium sekitar USD1,2 miliar per tahun.

Vice President Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengatakan jumlah produksi premium di Kilang TPPI sekitar 61.000 barel per hari, sedangkan produksi premium di RFCC Cilacap sekitar 30.000 barel per hari. Dari jumlah tersebut, masing-masing menyumbang penghematan sebesar 20 persen dan 10 persen. Sehingga total penghematan berjumlah 30 persen.

Apabila jumlah penghematan tersebut diasumsikan dengan harga minyak sebesar USD60 per barel, Wianda menyebutkan perusahaan pelat merah akan melakukan penghematan impor premium sebesar USD1,2 miliar per tahun.

"Kalau kita pakai asumsi USD60 per barel untuk gasoline, premium bisa kurang USD1,2 miliar per tahun. Impornya. Atau hemat sekitar Rp16 triliun per tahun," ucap Wianda, di TBBM Surabaya, Jalan Perak, Surabaya, Selasa, 10 November.

Dengan turunnya volume impor, Wianda menambahkan akan menurunkan devisa negara. Oleh karena itu, Rabu, 11 November 2015 Presiden Joko Widodo akan meninjau langsung kegiatan operasi di kilang TPPI.

"Maka devisa negara yang digunakan untuk mengimpor sudah pasti berkurang. Ini yang menjadi dapat perhatian Pak Presiden datang langsung untuk melihat bagaimana kegiatan operasi TPPI yang dilaksanakan," jelas dia.

Sebagai informasi, setelah mulai produksinya kilang TPPI Tuban, Jawa Timur bulan Oktober lalu, hasil produksi di kilang tersebut sudah melebihi 40 persen atau sekitar 61.000 barel per hari, Pertamina mencatat produksi ini akan mengurangi impor premium nasional sebanyak 20 persen.


 

Sumber : Annisa ayu artanti Metrotvnews.com
Rabu, 11 November 2015 08:04 WIB
 
 

 

"