Copyright @ Tuban Petrochemical Industries

JAKARTA - Presiden Joko Widodo meninjau lokasi kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Rabu (11/11/2015).

 

Dalam tinjauannya, Presiden Jokowi menemukan kegiatan produksi di kilang tersebut baru sebesar 70 persen.

 

"Saya cek di sini, meski baru 70 persen tapi sudah dimulai. Insya Allah pada akhir tahun mencapai 100 persen," ujar Presiden sesuai keterangan resmi dari Tim Komunikasi Presiden, Ari Dwipayana hari ini.

 

Presiden menjelaskan, sebelumnya kilang TPPI di Tuban sempat mengalami berbagai persoalan yang mengakibatkan kegiatan produksi menjadi tidak optimal.

 

Ia mengatakan pada tahun 2006 TPPI memulai operasi dengan bahan baku kondensat yang berasal dari Pertamina.

 

"Kemudian ada masalah lagi karena tidak bisa membayar sehingga menjadi masalah hukum yang sudah berlangsung empat tahun dan berhenti beroperasi," ucap Presiden.

 

Saat mengetahui TPPI didera masalah hukum, Presiden menyampaikan saat itu, agar masalah hukum diselesaikan di wilayah hukum.

 

"Di wilayah ekonomi dan bisnis harus jalan. Target kemarin, Oktober harus dimulai," ujar Presiden.

Dengan beroperasinya TPPI, kata Presiden, impor untuk premium dapat berkurang hingga 19 persen.

 

Tapi, jika proses di TPPI Tuban digabungkan dengan proses RFCC Cilacap akan menurunkan impor premium hingga 29 persen.

 

Bahkan pada bulan Desember 2015 penghematan impor akan mencapai 36 persen.

 

"Dan solarnya mencapai sekarang 40 persen, nantinya tidak akan ada impor pada akhir tahun," kata Presiden.

 

Proses-proses produksi premium, solar LPG, dan HOMC 92 atau dikenal sebagai Pertamax 92 yang akan dikerjakan di komplek TPPI Tuban ini.

 

Ke depan komplek intersebut akan menjadi Komplek Industri Petrokimia di Indonesia.

"Sebuah keputusan politik yang tadi diputuskan di dalam rapat dan kita harapkan nantinya, turunan-turunan dari proses produksi disini semuanya akan dihasilkan di komplek industri petrokimia itu," ujar Presiden.

 

Bahan-bahan turunan itu adalah seperti petrochemical, seperti paraxylene, Orthoxylene, Benzene, dan Toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional dan pengoperasian Kilang TPPI menghemat devisa USD 2,2 Miliar.

 

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan bahwa TPPI dapat menghasilkan sekitar 61.000 barel per hari Premium, 10.000 barel per hari HOMC, dan 11.500 barel per hari Solar. Adapun, tutur Dwi, TPPI juga memproduksi LPG hingga 480 metrik ton per hari.

Manfaat pengoperasian TPPI ini, kata Dwi, tentu saja tidak sebatas penghematan devisa, akan tetapi banyak aspek, mulai dari sentimen positif terhadap investasi, ketenagakerjaan, dan efek berganda lainnya.‎

 

TPPI dapat mengolah sekitar 100 ribu barel per hari kondensat dan atau naphta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti LPG, Solar, Fuel Oil, Premium, dan HOMC.

 

Apabila dioperasikan dengan aromatic mode, TPPI dapat memproduksi petrochemical, seperti paraxylene, Orthoxylene, Benzene, dan Toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional.

Pengoperasian kembali TPPI juga memonetize investasi sebesar USD 2,15 miliar yang ditanamkan sebelumnya.

 

Turut serta mendampingi Presiden, Menteri BUMN Rini Sumarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Gubernur Jawa Timur Sukarwo.‎‎


 

Sumber : Imanuel Nicolas Manafe - Tribunnews.com
Rabu, 11 November 2015 14:51 WIB
 
 

 

"